Halaqah 108: Ahlus Sunnah Beriman Dengan Seluruh Isi Al-Qur’an
Beliau mengatakan raḥimahullah
Dan kita Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwasanya seluruh apa yang diturunkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, dari basmalah sampai akhir Surah An-Nas, maka semuanya adalah ḥaqq. Al-Qur’an semuanya adalah ḥaqq, tidak ada di dalamnya kedustaan. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
Dan telah sempurna kalimat-kalimat Allah (Kalamullah), ṣidqan dalam khabarnya dan ‘adlan dalam hukum-hukumnya.
Ṣidqan fil akhbar — benar dalam kabar-kabar-Nya. Allah Subhanahu wata'ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an tentang umat-umat yang terdahulu, mengabarkan tentang Nabi Yusuf, para nabi seperti Nabi Mūsa ‘alaihissalam, dan apa yang terjadi pada Nabi adam ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wata'ala juga mengisahkan tentang Dzul Qarnain, Ashḥabul Kahfi. Maka, itu semua adalah ḥaqq.
Demikian pula, apa yang terjadi di masa yang akan datang seperti kejadian-kejadian setelah ditiupnya sangkakala yang kedua — bagaimana matahari digulung, bagaimana bumi diguncangkan oleh Allah Subhanahu wata'ala, bagaimana manusia dibangkitkan oleh Allah Subhanahu wata'ala. Demikian pula hukum-hukum yang Allah Subhanahu wata'ala sebutkan di dalam Al-Qur’an juga ‘adlan.
Ṣidqan wa ‘adlan — ṣidqan benar di dalam kabar-kabarnya, dan ‘adlan adil di dalam hukum-hukumnya. Karena di dalam Al-Qur’an bukan hanya terdapat kabar saja, tetapi juga syariat, perintah, dan larangan. Di sana ada hukum waris, di sana ada zakat, maka itu semua adalah keadilan semata. Tidak ada di dalamnya kedzaliman.
Dan seluruh apa yang shahih dari Rasūlullah Shallallahu 'alaihi wasallam — baik itu ḥadīts mutawatir maupun ḥadīts aḥad — kalau itu telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, maka kita harus meyakini kebenarannya.
Berbeda dengan sebagian orang yang membeda-bedakan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ada sebagian mereka bahkan hanya mengimani Al-Qur’an saja, tetapi tidak mengimani ḥadīts Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ini tentunya sangat parah yang demikian, Qur’aniyyūn (Inkarus Sunnah).
Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah, maka mereka mengimani seluruh apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan seluruh apa yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwaṭṭa’)
Allah Subhanahu wata'ala juga berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya.” (QS. An-Nisa’: 59)
Mentaati Allah Subhanahu wata'ala dalam apa yang Allah Subhanahu wata'ala sebutkan dalam Al-Qur’an dan mentaati Rasul dalam hadits-haditsnya.
“Barangsiapa yang menaati Rasul, maka sungguh dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan yang semisal dengannya (yaitu Sunnah).” (HR. Abu Dawūd, no. 4604)
Ahlussunnah wal Jama’ah beriman dengan seluruh apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan beriman dengan seluruh apa yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
