Halaqah 100: Ahlus Sunnah Tidak Mendebat Al-Quran dan Beriman Bahwa Al-Quran Adalah Kalamullah
Beliau mengatakan
dan kita tidak berdebat di dalam masalah Al-Qur’an.
Artinya, rumus kita adalah istislam. Kita menerima dan beriman, termasuk di dalam masalah Al-Qur’an, di dalam masalah nama dan juga sifat Allah Subhanahu wata'ala.
Dan keyakinan tentang masalah Al-Qur’an, sebagiannya telah disebutkan oleh beliau, bahwa ia adalah kalamullah, bukan makhluk, dan tidak sama dengan kalamul basyar. Maka, kita tidak berdebat di dalam masalah Al-Qur’an.
Dan kami mengimani bahwa Al-Qur’an ini adalah ucapan Rabbul-‘alamīn, sebagaimana telah berlalu dalil-dalilnya:
Ini adalah kalam Rabbul ‘alamin, kita tidak boleh mendebatnya, kita berserah diri bahwa Allah Subhanahu wata'ala mengatakan demikian, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan demikian. Itu adalah kalamullah. Kenapa kita berdebat sebagaimana ahlul kalam yang berdebat tentang masalah Al-Qur’an?
Malaikat Jibrīl, rūḥul amīn, telah turun dengannya sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala dalam Al-Qur’an.
Kita tidak boleh mendebat apa yang sudah disampaikan oleh Allah Subhanahu wata'ala kepada kita. Didengar oleh Malaikat Jibril dari Allah Subhanahu wata'ala, kemudian beliau bawa turun dan menyampaikannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Kemudian Jibril Alaihissalam mengajarkan itu kepada Sayyid al-Mursalin, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Diturunkan oleh ruhul amīn (Jibril) ke dalam hatimu (wahai Muhammad), supaya engkau menjadi orang-orang yang mengingatkan, menjadi salah seorang rasul
“Dengan bahasa Arab yang jelas.”
Di antara keyakinan Ahlus-Sunnah tentang masalah kalamullah, bahwa kalamullah ini tidak sama dengan ucapan makhluk.
Di antara keyakinan kita dalam masalah Al-Qur’an adalah bahwa ia adalah kalamullah, dan ia adalah sifat Allah Subhanahu wata'ala, serta bukan makhluk. Keyakinan kita adalah bahwa Allah Subhanahu wata'ala memiliki sifat kalam, sebagaimana dalam keyakinan-keyakinan lainnya, yaitu Allah Subhanahu wata'ala memiliki sifat kalam yang tidak sama dengan sifat kalam yang dimiliki oleh makhluk
tidak sama dengan ucapan makhluk.
Dan kita, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk, sebagaimana ucapan Mu’tazilah. Pembahasan ini telah berlalu, bersama dalil-dalil mereka, serta bantahan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, dan dalil-dalil Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah bahwa Al-Qur’an bukanlah makhluk. Ini telah dibawakan kembali oleh Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di sini untuk menekankan kembali tentang masalah ini.
Dan kita tidak menyelisihi jamaah kaum Muslimin. Maksudnya, tidak boleh kita menyelisihi akidah orang-orang Islam. Siapa yang dimaksud dengan Muslimīn di sini tentunya adalah jamaah kaum Muslimin yang imam mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, yang teladan mereka adalah para sahabat raḍiyallahu taʿala ʿanhum.
Karena inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau mengabarkan tentang perpecahan umat, dan mengabarkan bahwa semuanya masuk neraka kecuali satu:
“Dan yang satu itu adalah Al-Jama’ah.”
Ini dijelaskan dalam hadits lain ketika beliau mengabarkan tentang satu golongan tersebut, beliau mengatakan:
“Sesuatu yang aku berada di atasnya dan juga para sahabatku.”
Berarti jamaah itu dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan ditafsirkan sebagai orang-orang yang berada di atas jalan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan juga para sahabatnya. Inilah jama’atul muslimīn.
Jika kita berpegang teguh dengan sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan mengikuti para sahabat raḍiyallahu taʿala ʿanhum dalam kehidupan agama kita, maka kita masuk dalam jamaah ini. Tapi kalau kita menyelisihi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan menyelisihi petunjuk para sahabat, menyelisihi manhaj para sahabat, maka seseorang keluar dari jamaah ini.
Maka, Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah la nukhalif jama’atul muslimīn, kita tidak menyelisihi jama’atul muslimīn. Kita sama-sama dengan jama’atul muslimīn dengan makna jamaah yang menjadikan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai imam mereka, dan menjadikan para sahabat raḍiyallahu taʿala ʿanhum sebagai teladan mereka, termasuk di antaranya dalam masalah Al-Qur’an yang baru saja disebutkan.
Kita tidak boleh menyelisihi jama’atul muslimīn dalam masalah nama dan juga sifat Allah Subhanahu wata'ala. Kita tidak boleh menyelisihi jama’atul muslimīn, dan dalam seluruh perkara, baik dalam masalah akidah maupun yang lainnya, kita mengikuti jama’atul muslimīn.
Makna jama’atul muslimīn adalah jamaahnya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Inilah hakikat dari Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, karena mereka adalah ahli dalam sunnah, paling mengilmui, dan paling mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.
Mereka adalah al-jama’ah, karena mereka adalah ahlul ijtima’, yaitu mereka ahli dalam masalah persatuan, menjaga persatuan dengan cara tetap berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan mengikuti jalan para sahabat raḍiyallahu taʿala ʿanhum.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
