Hadis 34: Kewajiban Mengubah Kemungkaran
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ’anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Perawi Hadis
Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ’anhu adalah sahabat ke tujuh yang banyak meriwayatkan hadis. Beliau telah meriwayatkan 1.170 hadis. Ayahnya Malik bin Sinan syahid dalam peperangan Uhud, ia seorang khudri, nasabnya tersambung dengan Khudrah bin Auf Al Harits bin Al Khazraj yang terkenal dengan julukan ‘Abjar’. Beliau berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tergabung dengan kelompok Abu Dzar Al Ghifari, Sahl bin Sa’ad, Ubaidah bin Ash Shamit dan Muhammad bin Muslimah. Beliau juga pernah menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Bani Musthaliq, perang Khandaq dan sesudahnya hingga totl ada 12 peperangan yang beliau ikuti. Beliau wafat pada tahun 74 H.Faedah Hadis
- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perintah kepada segenap ummat untuk mengubah kemungkaran apabila ia menyaksikannya.
- Tidak boleh mengingkari kemungkaran sehingga orang tersebut yakin terhadapnya (bahwa itu berupa kemungkaran), yaitu dengan dua hal, Yang mengingkari yakin dengan kemungkarannya, dan orang yang melakukannya meyakini bahwa itu hal mungkar.
- Kemungkaran tersebut harus dianggap mungkar oleh kedua belah pihak.
- Tangan adalah alat untuk berbuat. Sebab secara garis besar perbuatan itu dilakukan dengan tangan, sehingga dalam banyak keterangan ayat dan hadis, perbuatan itu disandarkan kepada tangan.
- Tidak ada yang sulit dalam agama, sebab kewajibannya sendiri diisyaratkan dengan adanya kemampuan.
- Bahwa apabila seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya, dan tidak juga dengan lisannya, maka ia harus mengubahnya dengan hatinya.dengan cara membencinya dan berazam apabila suatu saat ia mampu mengingkarinya dengan tangan atau lisan, maka ia akan melakukannya.
- Hati memiliki amalan untuk mengubah kemungkaran. Selain memiliki amalan, hati juga memiliki ucapan. Ucapan hati adalah aqidahnya dan amalan hati adalah gerakannya disertai niat, pengharapan, rasa takut dan lainnya.
- Iman berbentuk amal dan niat.
