Halaqah 18: Allah Tidak Bisa Dijangkau dengan Persangkaan
Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang Allah tidak bisa dijangkau dengan persangkaan.
Beliau mengatakan,
Tidak sampai kepadanya Al Awhab – الأوهام – yaitu persangkaan²/ perkiraan², orang mengira dengan hatinya atau dengan akalnya berusaha untuk mengilmui- meliputi diri Allah dengan perkiraan² dia dengan persangkaan² dia maka
dia tidak akan sampai,
Akal dia terbatas pengetahuan dia terbatas,
Demikian pula pemahaman² manusia ini tidak akan bisa meliputi tentang diri Allah subhanahu wata'ala akal mereka terbatas dan mereka belum pernah melihat Allah dan mereka pun seandainya melihat Allah
Mereka tidak akan bisa meliputi.
Mereka adalah makhluk yang sangat kecil dan Allah subhanahu wata'ala Dialah yang al-Kholik, Dialah Al Kabir / Akbar, bagaimana mata-mata mereka dan pemahaman² mereka bisa meliputi Allah
mereka tidak akan bisa meliputi Allah dengan keilmuan yang mereka miliki, tidak semua nama Allah subhanahu wa ta’ala Allah kabarkan kepada kita tidak semua sifat Allah kabarkan kepada kita.
Sehingga ini menunjukkan bahwasanya yang kita ketahui berupa nama-nama Allah ini sesuai dengan apa yang Allah kabarkan kepada kita, disana ada nama-nama yang belum kita tahu sebagaimana dalam hadits
Dan nama-nama yang Engkau simpan di ilmu Ghoib di sisiMu.
Bagaimana kita bisa meliputi Allah subhanahu wa ta’ala dengan keilmuan kita, dengan pemahaman kita, tapi apa yang turun kepada kita berupa syard itulah yang kita pahami, itulah yang kita tetapkan selebihnya kita beriman secara global Allah subhanahu Wa ta’ala memiliki nama-nama dan juga sifat yang tidak sama dengan makhluk yang harus kita tetapkan dan seluruh sifat kesempurnaan tadi untuk Allah.
Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak ada sifat-sifat yang aib, sifat-sifat yang cacat sifat-sifat yang jelek pada diri Allah
Kalau memang demikian keadaannya, berarti ini menunjukkan yang pertama peringatan dari beliau bahayanya mengedepankan akal di atas dalil, dan ini mungkin banyak di zaman dulu orang-orang Ahlu kalam yang mereka mendahulukan akal mereka di atas dalil padahal
Dalam masalah Al Ghoibiyah perkara² yang ghoib maka kita harus berpijak dan kembali kepada dalil, kalau memang keadaannya maka kita dalam menetapkan nama dan juga sifat Allah harus berdasarkan Al-Qur’an dan juga hadits, sebab tentang nama dan sifat Allah adalah tauqif jangan kita menggunakan akal kita, ya mengakal-akali menetapkan nama dengan akal, menetapkan sifat dengan akal saja, semuanya harus kembali kepada dan dalil karena
Dan kesempurnaan² Allah tadi sifat-sifat Allah tadi dan juga Dzat Allah
tidak serupa dengan makhluk.
Jadi
Menunjukkan kewajiban kita untuk menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan juga RasulNya, istiwa, turunnya Allah tangan Allah, jari-jari Allah, ma ta Allah harus kita terima meskipun akal kita atau akal yang rusak itu tidak menerimanya, adapun akal yang sehat maka menerima yang demikian.
Kemudian yang harus kita pahami
Kita tetapkan sifat-sifat yang telah Allah dan juga RasulNya tetapkan untuk diri Allah, tapi harus kita yakini bahwasanya sifat-sifat tersebut
Tidak serupa dengan makhluk.
Jadi ungkapan ini
Bisa kita ambil diantara faedahnya di situ ada isbat dan juga nafi’un yaitu penetapan seluruh nama dan juga sifat Allah yang telah tetap bagi Allah berdasarkan Al-Qur’an dan juga hadits bukan dengan akal kita bukan dengan pemikiran kita, kemudian juga harus kita nafikan maksudnya adalah kita nafikan keserupaannya yaitu tidak mungkin sifat-sifat tadi serupa dengan makhluk.
Ini sebagaimana firman Allah
Tidak ada yang serupa dengan Allah sesuatu apapun, Ini
Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha melihat.
Ini penetapan,
Ini bantahan kepada orang-orang yang mushabihat
Bantahan kepada orang-orang yang muatsilah /orang² yang mengingkari.
Berarti ini pun juga demikian
Pengingkaran beliau terhadap Musabihat
Ini pengingkaran terhadap orang-orang yang muatsilah yang mereka mendahulukan akalnya kemudian mengingkari sifat meskipun beliau tidak mengatakan Rabb ala muatsilah , Rabb ala Musabihat tapi disini bahwasanya beliau mengingkari orang-orang yang mendahulukan akal dan orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk.
Nafi’un dan juga Isbat.
Demikian juga dengan firman Allah dalam surat Al-Ikhlas di dalamnya ada Nafi’un dan juga Isbat.
katakanlah Allah adalah ahadun yaitu Maha Esa dan kata Ahad tidak digunakan dalam keadaan dia didalam kalimat yang positif kecuali hanya untuk Allaha saja.
Tidak ada kata bukan atau tidak, kalimat yang positif ini hanya digunakan untuk Allah Allahu ahad yaitu Allah yang Maha Esa, dalam Dzat-Nya dalam sifat-Nya dalam nama-nama-Nya dalam Rububiyah-Nya dan juga uluhiyah-Nya.
Menunjukkan bahwasanya ketika kita mengatakan Allahu Ahad /Allah yang maha esa menunjukkan tentang kesempurnaan Allah, kita tetapkan dengan ungkapan Allahu Ahad- Allah adalah Yang Maha Esa kita tetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah karena ahad berarti Allah subhanahu wa ta’ala yang Esa di dalam uluhiyahnya yang Esa di dalam nama dan juga sifat-sifatnya Yang Esa di dalam masalah rububiyah nya .
Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Ash Shomad dan yang dimaksud dengan Ash Shomad adalah Yang di mana Yang lain ini bergantung kepadanya di dalam menunaikan hajat-hajat inilah yang dimaksud dengan Ash Shomad atau diantara makna Ash Shomad, yang lain kembali kepadanya dalam menunaikan hajat²nya di tanganNya lah segala sesuatu seluruh kesempurnaan adalah milik Allah subhanahu Wa ta’ala.
Berarti
Didalamnya ada Isbat menetapkan seluruh sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah.
di sini ada nafiun.
Allah subhanahu Wa ta’ala tidak melahirkan dan Allah tidak dilahirkan dan tidak ada sesuatu yang sebanding dengan Allah menafikan dan menafikan mengharuskan kita untuk menetapkan kebalikan² yang sempurna, Allah tidak ada yang sebanding dengan Dia maka Dialah yang satu-satunya yang Maha sempurna yang memiliki seluruh sifat kesempurnaanm
Berarti dalam surat Al-Ikhlas maupun dalam firman Allah
Maka didalamnya ada Isbat dan juga ada nafi’un, menetapkan sifat bagi Allah dan kita menafikan adanya keserupaan sifat tersebut dengan sifat makhluk.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]
