-->

Penjelasan Pokok Pertama Kitab Ushulussittah (Bagian 4)

[Marbot.Or.Id] Kemudian beliau (rahimahullāh) mengatakan:

وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ فِي صُوْرَةِ مَحَبَّةِ الصَّالِحِيْنَ وَاتِّبَاعِهِمْ

Dan mereka (syaithān) menjerumuskan manusia kedalam kesyirikan kepada Allāh.

Dengan cara apa?

Dengan dipoles dan dihiasi, seakan-akan itu termasuk mahabatusshālihin (menyintai orang-orang yang shālih) dan mengikuti mereka.

Dan ini adalah termasuk makar dan tipu daya syaithān.

Tidak langsung mengatakan asyrikbillāh (hendaklah engkau menyekutukan Allāh) tidak!

Tapi menjerumuskan manusia kedalam kesyirikan dan dipoles dengan mengatakan, “Ini termasuk mencintai orang yang shālih, menjunjung kedudukan mereka, menghormati hak-hak mereka”.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita memahami agama ini, dan menampakkan kebenaran itu benar dan yang bathil adalah bathil.

Didalam agama Islām tidak ada pertentangan antara tauhīd dan mencintai orang yang shālih, kita diperintahkan untuk mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mencintai orang-orang yang shālih.

Siapakah orang-orang yang shālih?

√ Orang shālih yang ikhlās kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Orang yang sesuai amalannya dengan Al Qur’ān dan juga hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

√ Orang yang shālih dhahir maupun bathinnya.

Mereka adalah orang-orang memiliki kedudukan disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dengan ketaqwaan mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla diantara kalian adalah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kalian”.(QS. Al Hujurāt: 13)

Orang-orang shālih mereka bertingkat-tingkat ketaqwaannya, mereka adalah orang-orang yang mulia disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan kita diperintahkan untuk menghormati mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allāh diantara hamba-hambanya adalah para ulamā” (QS. Fāthir: 28)

Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

“Para ulamā adalah pewaris para nabi”

Mewarisi ilmu mereka, mengajak manusia untuk berpegang teguh dengan warisan para nabi, para ulamā jelas memiliki keutamaan yang tinggi disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita diperintahkan untuk mencintai mereka mengikuti mereka didalam keshālihan ini, meneladani mereka didalam keshālihan ini.

Ini adalah cara untuk mencintai orang-orang yang shālih (yaitu) dengan mencintai mereka dengan hati kita sesuai dengan kadar keimanan mereka, mengikuti mereka, dan meneladani mereka didalam ibadah mereka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Menghormati orang yang shālih dan mencintai mereka diperintahkan namun penghormatan ini memiliki batasan-batasan yang telah ditentukan syar’iat.

Ada batasan yang telah ditentukan oleh Allāh dan Rasūl Nya dan tidak boleh penghormatan kita kepada orang-orang shālih (para ulamā, orang-orang yang zuhud, orang-orang yang mulia) melebihi dari batasan-batasan ini.

Kalau sampai melebihi maka masuk al ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shālih.

Dan ghuluw fi shālihin (ghuluw terhadap orang-orang shālih) adalah sebab terjadinya kesyirikan pertama kali dipermukaan bumi ini seperti yang terjadi pada kaumnya nabi Nūh alayhissallām.

Jadi kita diperintahkan menghormati orang yang shālih mencintai mereka dengan cara meneladani mereka, mengikuti mereka didalam amal shālihnya akan tetapi kecintaan ini memiliki batasan-batasan.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencela ahlul kitāb karena mereka berlebih-lebihan terhadap nabi Īsā alayhissallām.

Nabi Īsā adalah seorang rasūl, seorang hamba, tetapi mereka ghuluw (berlebih-lebihan), mengatakan bahwasanya nabi Īsā alayhissallām adalah anak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌۭ مِّنْ هُفَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِ

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allāh kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Īsā putera Maryam itu, adalah utusan Allāh dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allāh dan rasūl-rasūl Nya” (QS. An Nissā’: 171)

Wahai ahlul kitāb, janganlah kalian ghuluw didalam agama kalian dan janganlah kalian mengatakan atas nama Allāh, kecuali yang hak kecuali yang memang ada dalīlnya sementara ucapan mereka Īsā adalah anak Allāh adalah sesuatu yang tanpa burhan tanpa ada dalīl dari Allāh.

Sesungguhnya Īsā bin Maryam adalah seorang Rasūlullāh bukan seorang anak Allāh, dan kalimat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang Allāh tiupkan pada Maryam yaitu dengan ucapan Allāh (kun fayakun).

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencela orang-orang ahlul kitāb, orang-orang Nashrāni karena mereka ghuluw terhadap orang yang shālih, para nabi adalah pemukanya orang-orang shālih.

Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau adalah sebaik-baik rasūl (syayidul waladi Ādam) namun beliau mencela umatnya untuk ghuluw terhadap beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan melarang mereka untuk ghuluw kepada beliau.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَىِ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nashrāni berlebih-lebihan terhadap Īsā ibnu Maryam”

Larangan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita semua meskipun kita mencintai beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan tidak akan dinamakan seseorang beriman sampai mencintai beliau lebih dari anaknya lebih dari orang tuanya, lebih dari semua manusia.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Akan tetapi beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنما أنا عبد فقولوا عبدالله ورسوله

“Sesungguhnya aku adalah seorang hamba bukan sesembahan bukan seorang Tuhan, tapi aku adalah seorang hamba yang menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Maka katakanlah oleh kalian bahwasanya aku adalah seorang hamba Allāh dan juga seorang rasūl.

Maka didalam syahadat واشهد ان محمدا عبده ورسوله dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allāh dan juga rasūl Nya.

√ Pertama kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang hamba artinya tidak disembah

√ Kedua kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang rasūl artinya harus dibenarkan dan diikuti syar’iatnya.

Jadi beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sendiri melarang kita untuk ghuluw dan berlebih-lebihan terhadap beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Kalau kita dilarang untuk berlebih-lebihan kepada beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) tentunya kepada yang lain lebih dilarang.

Tidak ada yang lebih mulia kedudukannya disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla kecuali beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Dan diantara bentuk ghuluw terhadap orang-orang shālih dizaman sekarang diantaranya,

√ Berdo’a kepada orang-orang yang shālih yang sudah meninggal atau dinamakan dengan tawasul

√ Demikian pula membangun kuburan mereka, menghias-hiasin kuburan mereka.

√ Demikian pula ber’itikaf berdiam diri dikuburan mereka.

Ini semua termasuk bentuk ghuluw terhadap orang-orang shālih.

Berdo’a adalah termasuk ibadah yang tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Sanwitana
Saya hanya seorang karyawan swasta yang punya ketertarikan untuk menulis dan menebarkan ilmu sehingga menekuni dunia blog sejak 2013

Related Posts

Berlangganan Artikel
Radio Insani 88.8 fm Purbalingga