-->

Penjelasan Pokok Kedua Kitab Ushulussittah (Bagian 2)

Kemudian beliau (rahimahullāh) mengatakan:

وَذَكَرَ أَنَّهُ أَمَرَ الْمُسْلِمِيْنَ بِالاجْتِمَاعِ فِي الدِّيْنِ وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرُّقِ فِيْهِ

Dan Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh memerintahkan orang-orang muslimin untuk bersatu didalam agama dan melarang mereka untuk berpecah belah didalamnya.

وَيَزِيْدُهُ وُضُوْحًا مَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ الْعَجَبِ الْعُجَابِ فِي ذَلِكَ

Dan lebih jelasnya atau kejelasan ini menjadi lebih jelas dengan apa yang ada dan datang didalam sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang semakin menambah keheranan kita kepada orang-orang yang berpecah belah didalam agamanya.

Didalam As sunnah didalam hadīts-hadīts yang shahīh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerangkan juga tentang perintah bersatu didalam agama dan larangan untuk berpecah belah didalam agama.

Sebagaimana sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ الله يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ

“Sesungguhnya telah Allāh meridhāi untuk kalian tiga perkara, Allāh meridhāi untuk kalian agar kalian menyembah Allāh semata dan tidak menyekutukan Allāh dengan apapun.

وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguh dengan tali Allāh dengan Al Qurān dan supaya kalian jangan berpecah belah”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ridhā apabila kita saling bersatu diatas hak (diatas Al Qur’ān).

Dan didalam hadīts yang lain didalam hadīts qudsi disebutkan bahwasanya Allāh mengatakan:

لاَ تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling berhasad, janganlah kalian saling memutus, janganlah kalian saling membelakangi dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allāh yang saling bersaudara.”

Jelas, dijelaskan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam perintah untuk menjadi hamba-hamba Allāh yang bersaudara tidak saling hasad tidak saling memutus.

Dan beliau mengatakan:

المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِم: لا يَظلِمُه، وَلا يَحْقِرُهُ، وَلا يَخْذُلُهُ

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzhāliminya, tidak menghinanya tidak meninggalkanya ketika dia butuh pertolongan.”

Ini adalah perintah-perintah dari nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita saling bersatu dan tidak berpecah belah.

Oleh karena itu didalam Islām, Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang perkara-perkara yang kira-kira menjadikan permusuhan diantara kita.

Kita dilarang ghibah (membicarakan kejelekan orang) dilarang mengadu domba, bahkan dilarang minum minuman keras demikian pula perjudian, diantara hikmahnya adalah untuk ini.

Karena dua perkara ini menjadi wasīlah (perantara) bagi syaithān untuk memecah belah diantara kaum muslimin dengan sebab khamr dan perjudian.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ……

“Sesungguhnya syaithān bermaksud untuk menimbulkan permusuhan diantara kalian didalam al khamr (minuman keras) dan juga al maiysir (perjudian).” (QS. Al Māidah: 91)

Ini adalah dalīl-dalīl dari As sunnah yang semakin memperjelas bagi kita tentang pentingnya bersatu didalam agama dan juga larangan didalam berpecah belah.

Yang dimaksud dengan bersatu disini adalah bersatu diatas hak (bersatu diatas kebenaran) dan larangan berpecah belah.

Yang dimaksud bersatu diatas kebenaran bukan berarti seseorang dilarang untuk beramar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan jelas yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran).

Bersatu bukan berarti kita tidak beramar ma’ruf nahi munkar, kita diperintahkan untuk bersatu, satu didalam ‘aqidah satu didalam ibadah, satu didalam bermuamalah dan dilarang kita saling berpecah belah akan tetapi kita juga diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk saling beramar ma’ruf nahi munkar.

Jadi bersatu bukan berarti tidak boleh saling menasehati antara satu dengan yang lain, bukan berarti tidak boleh kita saling beramar ma’ruf nahi munkar.

Bahkan persatuan umat Islām diantara wasīlahnya adalah dengan ber’amar ma’ruf nahi munkar.

Oleh karena itu ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ayat tadi menyebutkan tentang perintah bersatu,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan hablullāh (Al Qur’ān) dan jangan saling berpecah belah.” (QS. Āli Imrān: 103)

Didalam ayat setelahnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kemudian pada ayat setelahnya Allāh mengatakan:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada diantara kalian golongan yang dia mengajak kepada kebaikan dan beramar ma’ruf nahi munkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Āli Imrān: 104)
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Sanwitana
Saya hanya seorang karyawan swasta yang punya ketertarikan untuk menulis dan menebarkan ilmu sehingga menekuni dunia blog sejak 2013

Related Posts

Berlangganan Artikel
Radio Insani 88.8 fm Purbalingga