-->

Penjelasan Pokok Pertama Kitab Ushulussittah (Bagian 2)

Kemudian beliau rahimahullāh menyebutkan perkara yang pertama yang dipahami oleh orang-orang awam dikalangan kaum muslimin akal tetapi banyak orang-orang cerdas yang tidak memahami perkara ini.

Beliau mengatakan:

اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ : إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لهُ ، وَبَيَانُ ضِدِّهِ الذِيْ هُوَ الشِّرْكُ بِاللهِ

• Perkara yang pertama | Mengikhlāskan agama untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla (tidak ada sekutu baginya) dan menjelaskan lawan dari keikhlāsan ini adalah syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Diantara perkara yang sudah Allāh jelaskan didalam Al Qurān dengan penjelasan yang gamblang (penjelasan sangat jelas) adalah,

إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Mengikhlāskan agama ini hanya untuk Allāh (tidak ada sekutu bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla) juga menjelasan tentang bahaya syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini semua Allāh sebutkan dengan jelas didalam Al Qurān.

وَكَوْنُ أَكْثَرِ الْقُرْآنِ فِي بَيَانِ هَذَا الْأَصْلِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ

Kata beliau:

Dan bahwasanya sebagian besar ayat-ayat Al Qurān adalah untuk menjelaskan perkara ini.

Menjelaskan tentang;

⑴ Ikhlās kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah.

⑵ Menjelaskan tentang bahayanya kesyirikan di dalam beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى

“Dalam bentuk-bentuk yang sangat berbeda dan cara yang berbeda”

(Artinya) Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al Qurān menjelaskan tentang perkara ini dalam berbagai cara dan berbagai penjelasan.

بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ

“Dengan ucapan yang dipahami (bahkan orang yang paling bodoh diantara orang-orang awam)”

⇒ Menunjukkan tentang bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla (sangat) menjelaskan perkara ini didalam Al Qurān, sampai orang yang paling bodohpun kata beliau juga memahami ucapan ini.

Yaitu tentang masalah,

√ Tauhīd
√ Bahayanya kesyirikan

Sebagian ulamā mengatakan semua isi Al Qurān adalah tentang tauhīd (dari awal sampai akhir).

Diantara buktinya adalah surat yang pertama (Al Fātihah) demikian pula surat yang terakhir (An Nās) isinya tentang masalah tauhīd.

Al Fātihah isinya penuh dengan makna tauhīd.

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ۞ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۞ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۞ إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ

Didalamnya ada:

√ Tauhīd Asmā’ wa Shifat
√ Tauhīd rubūbiyah
√ Tauhīd al ulūhiyyah.

إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ

“Hanya kepada Mu lah Yā Allāh, kami menyembah dan hanya kepada-Mulah (Yā Allāh) kami memohon pertolongan.”

Demikian pula surat yang terakhir An Nās,

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ۞ مَلِكِ ٱلنَّاسِ

Ini semua adalah tauhīd kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla (meminta perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla) Raja manusia sesembahan manusia.

⇒ Semua surat didalam Al Qurān isinya adalah tentang tauhīd.

√ Penjelasan tentang bagaimana keutamaan tauhīd.

√ Penjelasan bagaimana cara bertauhīd.

√ Penjelasan tentang bahaya kesyirikan (apa bentuk kesyirikan).

√ Penjelasan tentang akibat dan pahala bagi orang yang bertauhīd dan adzab bagi orang yang berbuat syirik.

Bahkan kisah-kisah yang ada didalam Al Qurān banyak diantaranya yang berkaitan dengan masalah tauhīd.

Bagaimana kisah nabi Nūh alayhissallām?

Kisahnya adalah bagaimana beliau berdakwah dan mendakwahi umatnya kepada tauhīd.

Demikian pula kisah nabi Shālih, nabi Hūd, nabi Syuaib dan juga nabi-nabi yang lain.

Kalau kita tadabburi ternyata Al Qurān semua adalah masalah tauhīd (mengikhlāskan ibadah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla) dan tentang bahaya kesyirikan.

Namun ternyata banyak diantara manusia yang tidak memahami tentang perkara ini.

Bahkan kata beliau disini, termasuk orang yang cerdas diantara mereka.

Kenapa demikian?

Diantara sebabnya adalah:

⑴ Al ‘irab (seseorang berpaling dari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Tidak mau mempelajari agama Allāh, sibuk dengan yang lain (sibuk dengan dunianya, sibuk dengan hobbynya).

Dan dia berpaling tidak mau menekuni dan tidak mau mempelajari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⑵ Al Kibr (sombong).

Dia mengetahui kebenaran akan tetapi dia tidak mau mengamalkan dan menerima kebenaran tersebut.

Sebagaimana dilakukan oleh Iblīs ketika diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk melakukan sujud (penghormatan) kepada nabi Ādam alayhissallām akan tetapi iblīs sombong, dan Iblīs termasuk orang-orang yang kāfir.

Diantara sebabnya adalah dua perkara ini,

⑴ Berpaling dari mempelajari agama Allāh
⑵ Al Kibr (sombong dan tidak mau mengamalkan kebenaran).

Al Qurān diturunkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla tujuan utamanya adalah untuk di amalkan, ditadabburi, dipahami (bukan sekedar dibaca atau diperbaiki tajwidnya atau diambil berkahnya ketika membacanya).

Semua itu adalah termasuk kebaikan akan tetapi bukan tujuan utama diturunkannya Al Qurān.

Tujuan utama diturunkannya Al Qurān adalah untuk ditadabburi kemudian diamalkan didalam kehidupan kita sehari-hari.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ

“Kitāb (Al Qur’ān) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”

(QS. Sad: 29)

Demikianlah Al Qurān diturunkan bukan sekedar dibaca dengan tajwid dengan tartil akan tetapi seseorang yang membacanya jauh dari mengamalkan Al Qurān tersebut.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Sanwitana
Saya hanya seorang karyawan swasta yang punya ketertarikan untuk menulis dan menebarkan ilmu sehingga menekuni dunia blog sejak 2013

Related Posts

Berlangganan Artikel
Radio Insani 88.8 fm Purbalingga