-->

Pengantar Ushulussittah

Kita akan bersama-sama mempelajari sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh yaitu kitāb yang berjudul Al-Ushūlul As-Sittah.

• Al-Ushūlul As-Sittah atau enam kaidah

Kitāb ini termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat, kitāb ini ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Dan hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.

Didalam kitāb ini, beliau menyebutkan enam perkara yang sangat penting.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi adalah seorang ulamā yang lahir pada tahun 1115 Hijriyyah.

Beliau menimba ilmu agama semenjak kecil dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulamā-ulamā besar yang lain di zaman beliau, seperti Syaikh Muhammad Al Hayah, As Sindi, dan juga yang lain.

Dan didalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah diantaranya ke Bashrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madīnah dan menimba ilmu dari para ulamā yang tinggal disana.

Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syām (daerah Syām) untuk menimba ilmu, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.

Dan beliau termasuk ulamā yang gigih didalam menghidupkan Al Qurān, As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allāh, bertauhīd kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beliau (rahimahullāh) meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. Dan telah meninggalkan banyak karangan (yang sangat bermanfaat).

Diantaranya adalah:

√ Al Ushūluts Tsalātsah
√ Al Qawā’idul Arba’
√ Ushūlul Imān
√ Kasyfusy Syubuhāt
√ Kitābut Tauhīd

Dan diantaranya kitāb yang in syā Allāh akan kita pelajari yaitu Al-Ushūlu As-Sittah (enam kaidah).

Beliau berkata:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Memulai kitābnya dengan basmallāh.

Meniru dan mengikuti apa yang Allāh lakukan didalam Al Qurānul Karīm, karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai kitābnya dengan basmallāh.

Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ketika beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) beliau memulai kitābnya dengan basmallāh.

Oleh karena itu disini pengarang memulai kitāb nya dengan basmallāh بسم الله الرحمن الرحيم

Dan ba (ب) disini adalah (ب) al isti’ānah yaitu (ب) yang fungsinya adalah memohon pertolongan.

Orang yang mengatakan (بسم اللّه الرحمن الرحيم ) pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla

• Ismillāh dengan nama Allāh.

Kalimat mufrad yang tunggal yaitu ism dan dia disandarkan pada kalimat lafdzu jalālah dan maknanya adalah mencakup seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang yang mengatakan بسم الله الرحمن الرحيم berarti dia telah beristi’ānah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

• Allāh (lafdzu jalālah).

Allāh (lafdzu jalālah) adalah nama Allāh yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allāh yang lain.

Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-rahmān Ar-rahīm dan Ar-rahmān Ar-rahīm adalah nama diantara nama-nama Allāh. Diambil dari Ar-rahmāh yang artinya kasih sayang.

• Perbedaan Ar-rahmān dan Ar-rahīm

Perbedaan antara Ar-rahmān dengan Ar-rahīm disebutkan oleh para ulamā diantaranya,

√ Ar-rahmān adalah kasih sayang Allāh yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kāfir kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

⇒ Orang kāfir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh memberikan rejeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Ar-rahīm, maka mengandung rahmat mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allāh berikan kepada orang-orang yang beriman.

⇒ Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullāh.

Ini semua adalah kasih sayang Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dikhususkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang beriman dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Ushulussittah]
Author
Saya hanya seorang karyawan swasta yang punya ketertarikan untuk menulis dan menebarkan ilmu sehingga menekuni dunia blog sejak 2013

Related Posts

Berlangganan Artikel
Radio Insani 88.8 fm Purbalingga