-->

Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 10)

Post a Comment
Di antara cara beriman kepada para rasul alaihimussalam adalah keyakinan bahwa Allah telah menguatkan mereka dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai pembenaran terhadap kenabian mereka. Tanda-tanda kekuasaan ini telah tersebar di kalangan kaum muslimin dengan nama ‘mukjizat’.

Al Mu’jizaat adalah jamak dari Al Mu’jizah, yang secara bahasa artinya adalah yang melemahkan orang lain sehingga tidak bisa mendatangkan yang semisalnya.

Lafadz ini tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, yang sering digunakan adalah Al Ayat dan Al Bayyinat.

Al Ayat artinya adalah tanda-tanda kekuasaan.
Al Bayyinat artinya adalah bukti-bukti yang jelas.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ…
[QS Al-Baqarah 87]

“Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa Al Kitab (At Taurat) dan Kami susulkan setelahnya para Rasul dan Kami berikan kepada Isa Ibnu Maryam, Al Bayyinat.”

Berkata Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini,

ولهذا أعطاه الله من البينات، وهي المعجزات

“Oleh karena itu Allah memberikan kepada beliau (Nabi Isa) Al Bayyinat dan maksudnya adalah Al Mu’jizat.”
Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

… وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ…
[QS Ar-Ra’d 38]

”Dan seorang Rasul tidaklah mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allah.”
Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنَ الأنْبِياءِ نَبيٌّ إلاّ أُعْطِيَ مِنَ الآياتِ مَا مِثْلُهُ أوْ مِنَ أوْ: آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وإنَّما كانَ الّذِي أُوتِيتُ وحْياً أوْحاهُ الله إليَّ فأرْجُو أنِّي أكْثَرُهُمْ تَابعا يَوْمَ القِيامَةِ

“Tidaklah ada seorang Nabi kecuali diberi tanda-tanda kekuasaan, yang beriman dengannya manusia dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku maka aku berharap bahwa aku yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Pengertian Ayat atau Mu’jizah adalah sesuatu di luar kebiasaan. Diiringi dengan tantangan dan pengakuan sebagai Nabi, tidak ada yang bisa melawannya, Allah saja lah yang menciptakannya, sebagai pembenaran dan penguatan bagi para Nabi-Nya.

Yang dimaksud dengan “sesuatu”, mencakup ucapan dan perbuatan.
Dan “di luar kebiasaan” maksudnya di luar sesuatu yang menjadi kebiasaan manusia.

Diiringi dengan tantangan dan pengakuan sebagai Nabi, kalimat ini membedakan antara Ayat dengan Karomah. Tidak ada yang bisa melawannya. Kalimat ini membedakan antara Ayat dengan Sihir dan amalan syaitan. Allah saja lah yang menciptakannya, artinya ini bukan terjadi karena kehendak Nabi akan tetapi karena kehendak Allah azza wajalla, dan Dialah yang menciptakannya.

Allah berfirman,

وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ…
[QS Ar-Ra’d 38]

”Dan tidaklah seorang Rasul bisa mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allah.”
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Beriman Kepada Rasul Allah]

Related Posts

Post a Comment

Berlangganan Artikel
Radio Insani 88.8 fm Purbalingga