-->

Cara Beriman dengan Para Rasul (Bagian 7)

Post a Comment
Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…
[QS An-Nahl 36]

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah thogut.”

Yang dimaksud dengan thogut adalah sesuatu yang disembah selain Allah.

Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
[QS Al-Anbiya’ 25]

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku, maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaku.”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…
[Surat Al-Ahqaf 21]

“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah.”

Tiga ayat di atas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu, yaitu tauhid.

Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menceritakan di dalam Al-Qur’an beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya.

Allah Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang Nabi Nuh alaihissalam,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…
[QS Al-A’raf 59]

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata, ‘Wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia.'”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang Nabi Hud alaihissalam, Allah mengatakan,

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ
[QS Al-A’raf 65]

”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud alaihissalam, dia berkata, ‘Wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa?’”
Dan Allah mengatakan,

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…
[QS Al-A’raf 73]

“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud, saudara mereka Sholeh dia berkata, ‘Wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia.’”

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Syu’aib alaihissalam,

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…
[QS Al-A’raf 85]

“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia.’”

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada tauhid, ia merupakan inti dari ajaran mereka.

Adapun hukum-hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan.
Allah berfirman,

…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …
[QS Al-Ma’idah 48]

“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu-ibu mereka berbeda tetapi agama mereka satu.” [HR Al-Bukhori & Muslim]

Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara-saudara dari satu bapak berlainan ibu, maksudnya sama-sama berdakwah kepada tauhid meskipun dengan cara yang berbeda

Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah,

فالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتها

“Maka yang dimaksud dengannya adalah pokok-pokok dari tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah Ta’āla meskipun berbeda caranya.”
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Beriman Kepada Rasul Allah]

Related Posts

Post a Comment

Berlangganan Artikel
Radio Insani 88.8 fm Purbalingga