Masalahpun Terurai

Masalahpun Terurai

Print Friendly and PDF
masalahpun terurai
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. At Tirmizi)

Lalu pertanyaannya adalah mengapa manusia gampang mengalamaistres saat menghadapi masalah, padahal para Nabi yang ujian hidupnya lebih berat tetapi tidak mengalami stres? jawabannya ialah karena para Nabi dan Rasul mengetahui kunci agar sebuah masalah dapat terurai.

Berikut ini kunci-kunci untuk mengurai suatu masalah:
1. Ilmu
Setelah taufik dari Allah Subhanahuwata'ala kita sangat memerlukan ilmu untuk mengurai suatu masalah, sebagaimana komentar Nabi Khidir kepada Nabi Musa atas sikapnya ketika tidak sabar dalam perjalanan bersamanya:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

"Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"(QS. Al Kahfi: 68)

Seseorang mampu menghadapi suatu masalah bukan karena ujian itu mudah namun karena dia mengetahui ilmunya, maka jangan pikirkan berat ringannya suatu ujian tetapi pikirkan bagaimana menguasai ilmunya. Begitu pula salahsatu faktor utama sukses atau tidaknya dalam menghadapi masalah adalah seberapa besar kita mengetahui ilmunya, maka dari itu setiap orang bukan sekedar wajib menuntut ilmu namun sudah dalam taraf butuh kepada ilmu itu sendiri.

Ilmu yang kita cari dalam mengurai suatu masalah adalah ilmu syar'i yang berasal dari Rabb Yang Maha Mengetahui, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhanahuwata'ala:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (QS. Al Mulk: 14)

Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa Allah-lah yang memberi ujian maka hanya Allah-lah yang mengetahui kunci/solusi dari ujian itu. Mendekatlah kepada Allah dengan cara meningkatkan ibadah kepada-Nya dan mempelajari ilmu-ilmu-Nya di majelis-majelis ilmu dengan para ulama-ulama yang berakidah lurus berdasarkan Alquran dan hadis.

2. Menyibukkan diri dengan tugas pribadi dan jangan mencampuri urusan Allah Subhanahuwata'ala.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al Anbiya: 23)

Begitu ada masalah segera mencari ilmunya, ikhlaskan niat, lakukan kewajiban kepada Allah, jauhi yang Allah haramkan kemudian berikhtiar sesuai dengan kemampuan. Namun pada kenyataannya banyak diantara manusia, ketika masalah itu datang malah terkadang sibuk mengurusi urusan orang lain bukan fokus pada tugas pribadi untuk mengurai masalah itu.

Menurut Ibnul Qayyim Rahimahullah bahwa "Kunci terurainya masalah adalah kalimat tauhid." Banyak doa kettika memecahkan masalah mengandung kalimat tauhid, sebagai contoh adalah doa Nabi Yunus ketika ditelan oleh ikan raksasa sebagaimana diabadikan dalam surat Al Anbiya ayat 87:

 ...لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ...

Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya”.

Pada doa di atas mengandung kalimat tauhid, mensucikan Allah dan mengakui kekurangan dan kelemahan serta dosa yang ada pada diri sendiri. Doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi Yunus dalam keadaan hati yang ikhlas dan sesuai dengan kondisi beliau yang benar-benar mentauhidkan Allah Subhanahuwata'ala.

Dari kisah Nabi Yunus tersebut bisa kita ambil hikmah bahwa apabila masalah itu datang segera cek ibadah kita, apakah sudah baik secara kualitas dan kuantitasnya karena semakin baik ibadah kita maka semakin mudah kita bisa mendapat kunci dari Allah untuk mengurai masalah kita.

Namun kebanyakan seseorang terkadang terlalu banyak menganalisa masalah tetapi tidak fokus menjalankan tugas untuk beribadah dan bertakwa karena dengan ibadah dan takwa untuk mendekatkan diri kepada Allah maka masalah akan semakin mudah dan cepat terurai.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At Talaq: 3)

Rezeki pada ayat di atas tidak hanya sekedar bermakna materi keduniaan semata namun dapat pula diartikan sebagai solusi dari pemecahan suatu masalah.

Salahsatu bentuk beribadah dan takwa kepada Allah Subhanahuwata'ala untuk menggapai kunci terurainya masalah adalah dengan memperbanyak zikir kepada-Nya bukan sekedar memperbanyak berpikir sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Ar Ra'd ayat  28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Pemberi ujian adalah Dzat yang Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang maka serahkan solusinya hanya kepada Allah dan kita hanya perlu mendekat kepada-Nya. Apapun solusi yang Allah berikan itulah yang terbaik untuk kita, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata'ala:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah: 216)

Selama seorang muslim masih menjaga iman dan tauhidnya maka Allah pasti akan menolongnya selama orang tersebut mau berikhtiar. Diantara bentuk ikhtiarnya adalah bersabar dan mencari obat/solusi masalahnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Orang yang terbebani akan hasil maka dialah orang yang tidak akan mampu mengurai masalah karena yang sesungguhnya dia perlukan adalah sabar dan takwa karena hasil hanya Allah yang menentukannya di waktu yang tepat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa musibah adalah obat agar manusia taat, tunduk kepada Allah dan tidak berlaku sombong di muka bumi. Hal ini selaras dengan firman Allah:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri." (QS. Al An'am: 42)

Demikian semoga bermanfaat. [marbot]

***

[Ditranskip dari ustaz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc. di masjid Manarul Ilmi komplek Ponpes Tunas Ilmu Kedungwuluh-Purbalingga]
Print Friendly and PDF

Post a Comment

0 Comments