Definisi Masjid

Definisi Masjid

Print Friendly and PDF
definisi masjid
Menurut bahasa, masjid berarti tempat sujud namun secara syariat, masjid adalah setiap tempat yang ada di bumi (Az Zarkasyi As Syafii dan Al Jarra Al Hanbali). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا
“Bumi telah dijadikan bagiku sebagai masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukan bahwa hukum asal tanah adalah suci sampai diketahui bahwa tanah itu najis dan bahwa setiap tanah itu merupakan alat bersuci yang baik untuk salat kecuali tanah yang ditunjukan dalil atas pengecualiannya, seperti yang terdapat di kuburan, pemandian dan kandang unta.

Adapun masjid secara ‘Urf (definisi umum) para ahli fikih adalah sebidang tanah yang terbebas kepemilikannya dari seseorang dan dikhususkan untuk salat dan beribadah.

Az Zarkasyi berkata bahwa ‘Urf telah mengkhususkan masjid sebagai tempat yang disediakan khusus untuk salat lima waktu, sehingga hal itu mengecualikan musala (tanah lapang) yang dijadikan tempat berkumpul untuk salat Ied dan aktifitas lainnya. Karena itulah, kepada musala tidak diberlakukan hukum masjid. Demikian pula dengan panti-panti dan sekolah-sekolah.

Boleh jadi yang dimaksud oleh Az Zarkasyi dengan “Urf tersebut adalah definisi Syar’i. Karena para ulama sepakat bahwasannya sebidang tanah tidak bisa dinamakan masjid sebelum tanah itu diwakafkan oleh pemiliknya dalam bentuk wakaf yang benar dan untuk selama-lamanya, yang tidak disertai persyaratan dan tidak terdapat khiyar (hak memilih untuk meneruskan/ membatalkan wakaf) di dalamnya, baik seseorang mewakafkannya dengan ucapan atau dijumpai adanya indikator perbuatan yang menunjukkan bahwa dia telah mewakafkan tanahnya itu, misalnya orang tersebut membangun sebuah masjid kemudian mengizinkan orang-orang untuk melakukan salat didalamnya. (Al Mughni (VIII/190); Ahkamul Masajid fil Islam (hlm. 18)

Namun jika seseorang tidak mewakafkan tanah miliknya, maka tempat itu bukanlah masjid, sekalipun tempat tersebut dijadikan tempat salat. Misalkan gedung-gedung atau sekolah-sekolah yang disitu terdapat musala untuk tempat orang-orang salat, maka disitu tidak dihukumi sebagai masjid.

Para ulama berbeda pendapat mengenai musala tempat melangsungkan salat Ied yaitu sebuah tempat yang dikhususkan untuk melaksanakan salat Ied, baik dikelilingi pagar maupun tidak – dalam hal apakah tempat ini bisa diangap sebagai masjid sehingga diberlakukan hukum-hukum masjid padanya ataukah tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yaitu:

1. Musala tempat salat Ied itu bukanlah masjid, sehingga musala tidak memiliki hukum-hukum masjid, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan kesucian tempat, tersambungnya shaf dan mengikuti imam. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Karena muslaa tempat salat Ied tidak memiliki jamaah rutin yang mendirikan salat fardu tidak dianggap sebagai masjid, maka tempat itu tidak pula memiliki hukum-hukum masjid.

2. Musala tempat salat Ied adalah masjid jika pemiliknya menjadikannya sebagai wakaf, sehingga ia memiliki hikum-hukum masjid yang terdiri dari diharamkannya praktik jualbeli di dalamnya, masuknya perempuan sedang haid ke dalmanya, dan sebagainya. Pendapat ini merupakan pendapat yang sahih dari mazhab Hanbali. Pendapat inipun merupakan pendapat Qadhi Iyadh dan ad Darimi (Al Majmu).

Pendapat yang menyatakan musala tempat salat Ied adalah masjid adalah pendapat yang kuat. Alasannya, karena tempat itu dawakafkan oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk manusia agar mereka dapat salat di sana. Tidak ada perbedaan apakah musala tersebut untuk salat Ied saja atau salat rutin lainnya. Atas dasar itu pula mereka dianjurkan salat Tahiyautl Masjid ketika dia memasuki tempat salat Ied.

Adapun tempat untuk salat jenazah - apabila ada tempat khusus untuknya – maka tempat itu bukanlah masjid karena dalam salat jenazah tidak ada ruku’ maupun sujud.

Di antara tempat yang memiliki hukum yang sama dengan masjid adalah lapangan tebuka masjid, yaitu halaman dan lahan kosongnya. Biasanya lapangan tersebut tersambungdengan bangunan masjid dan dikelilingi oleh pagar masjid baik terdapat serambi di bagian tengah, belakang, atatpun depan masjid.

Demikian pula perpustakaan masjid atau ruang lainnya tetap dihukumi masjid apabila pintunya berada di masjid sehingga disyariatkan salat tahiyatul masjid ketika memasukinya dan sah apabila digunakan untuk i’tikaf. [marbot]
 
***
[Disalin dari kitab Ahkamu Hudhuri al-Masjid karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan yang diterjemahkan oleh Ahmad Yunus, M.Si. dengan judul Fiqih Seputar Masjid]
Print Friendly and PDF

Post a Comment

0 Comments