Kiat-kiat Meraih Ramadan Penuh Makna

Kiat-kiat Meraih Ramadan Penuh Makna

Print Friendly and PDF
kiat meraih ramadan penuh makna

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan, dan tidak setiap orang yang diberi kesempatan bertemu dengan bulan Ramadan dapat mengambil manfaat dari bulan Ramadan.

Sebagaimana sabda nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya)

Hadis di atas menunjukan bahwa banyak orang-orang yang berjumpa dengan bulan Ramadan namun gagal dalam mengambil manfaat dari Ramadan itu sendiri seperti diampuni dosa, pahala sedekah, meningkat keimanannya dan sebagainya.

Maka dari itu supaya kita dapat memetik manfaat dari bulan Ramadan  dengan hasil maksimal, perlu adanya kiat-kiat agar Ramadan yang kita jalani menjadi penuh makna dan manfaat. Adapun kiat-kiat tersebut antara lain:


Mempertebal Rasa Tawakal
Tawakal berarti menggantungkan diri dan hati hanya kepada Allah Ta'ala. Kita merasa tidak mungkin bisa beribadah dan meraih keutamaan Ramadan seandainya tidak mendapat pertolongan, bantuan, dan rahmat dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. Al Maidah: 23)

Dari ayat di atas dapat diambil hikmah bahwa salah satu ciri beriman adalah seberapa besar tingkat tawakal kepada Allah Azza wa jalla. Orang yang belum memurnikan tawakal hanya kepada Allah berarti orang tersebut belum dikatakan beriman (dengan sempurna).


Bertaubat Sebelum Datangnya Ramadan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. At Tahrim: 8)

Taubat adalah ibadah yang diperintahkan tidak hanya sebelum Ramadan tapi sepanjang tahun bahkan setiap kesempatan. Akan tetapi menjelang Ramadan kita sangat butuh untuk bertaubat karena sepanjang Ramadan banyak sekali ibadah-ibadah yang dilakukan, sedangkan untuk menjalankan ibadah tersebut kita sangat membutuhkan kekuatan yang maksimal terutama kekuatan hati, karena hati adalah motor penggerak fisik kita.

Untuk itu hati perlu dibersihkan dari kotoran-kotoran yang berupa dosa dan maksiat. Apabila hati kotor maka akan menjadikan badan ini malas untuk beribadah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإْنَ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوْ قَلْبَهُ

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa maka akan tertitik dalam hatinya noda hitam jika ia menghilangkannya dan memohon ampun, dan di ampuni, maka hatinya itu dibersihkan. Jika ia melakukan kelasahan lagi, maka bintik hitam itu akan ditambah sehingga bisa menutupi hatinya. [HR. Ibnu Mâjah, Tirmidzi [6] . Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Tirmidzi.]

Adapun salahsatu redaksi bacaan doa taubat adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

dibaca 100x setiap hari (saat pagi atau petang -dzikir pagi/petang-)


Menghindari hal-hal yang Bisa Merusak Puasa
Puasa bisa rusak dan pahalanyapun bisa rusak bahkan habis.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Puasa tidak hanya menahan perut namun juga anggota badan lainnya seperti mata, mulut dan sebagainya. sebagai contoh ketika Ramadan tiba kurangilah (bila perlu hindari, matikan televisi) menonton acara-acara televisi yang kurang bermanfaat, acara-acara seperti sinetron, gosip, musik-musik serta acara lainnya yang mengandung ghibah, hoax  dan sebagainya, karena Ramadan adalah bulan ibadah bukan bulannya TV.


Memprioritaskan Amalan yang Wajib
Orang yang cerdas pasti akan memprioritaskan yang wajib daripada yang sunnah karena yang diwajibkan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam sebuah hadis qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ.

Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang lebih aku cintai dari pada amalan yang Aku wajibkan atasnya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga aku mencintainya. (HR. Bukhari)

Anehnya di bulan Ramadan justru terbalik, amalan sunnah lebih banyak diutamakan daripada amalan yang wajib. sebagai contoh amalan sunnah salat Tarawih yang hukumnya sunnah justru lebih banyak jamaahnya dibandingkan salat dhuhur yang hukumnya wajib.


Berusaha Meraih Lailatul Qadr

Mengapa kita harus benar-benar berusaha menggapai Lailatul Qadr? karena malam ini adalah malam yang paling istimewa, yaitu malam yang lebih istimewa daripada 100 bulan (sekira 83 tahun 4 bulan).

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al Qadr: 3)

Para ulama menjelaskan bahwa beribadah (siang hari puasa, kemudian malam hari mendirikan salat dan amalan lainnya) di malam Al Qadr itu melebihi beribadah (yang sama) selama 1000 bulan di luar Ramadan.

Adapun cara mendapatkan Lailatul Qadr adalah:
1. Mencari tahu waktunya

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169).

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017).

Hikmah dari hadis di atas (tidak disebutkannya waktu spesifik tentang Lailatul Qadr) adalah supaya orang-orang beriman senantiasa bersemangat beribadah terutama di sepuluh malam terakhir tanpa mngkhususkan satu hari tertentu dan tentu saja seseorang tidak akan bisa beribadah maksimal di sepuluh malam terakhir Ramadan jika dia tidak memulainya/mempersiapkannya semenjak awal Ramadan bahkan mungkin sebelum Ramadan.

2. Memaksimalkan ibadah

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (ikat pinggangnya), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Maksud dari mengencangkan sarungnya (ikat pinggangnya) adalah beliau menghindari/ menjauhi istri-istrinya dalam hal ini maksudnya adalah  tidak berjima' (menggauli) istri-istrinya. Sedangkan menghidupkan malam maksudnya adalah banyak mengerjakan salat, membaca alquran, dzikir dan memeprbanyak membaca: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى


Konsisten Beramal Paska Ramadan
Mulai dari sekarang yaitu sebelum Ramadan (bahkan para ulama salaf memulainya semenjak 6 bulan sebelum Ramadan) memeprbanyak berdoa agar diberi kesempatan bertemu dan beribadah di bulan Ramadan, Menguatkan tekad untuk menjadi mukmin yang lebih baik sebelum Ramadan, Saat Ramadan dan Setelah Ramadan.

Semoga Allah memudahkan langkah kita dan usaha kita dalam menggapai kemuliaan Ramadan.[SW-marbot]

***

Narasumber: Ustaz Abdullah Zaen, Lc.MA.
Gambar: https://gulfnews.com/lifestyle/community/ramadan-2019-everything-you-need-to-know-1.1528649
Print Friendly and PDF

Post a Comment

0 Comments