Meraih Keutamaan Ramadan

Meraih Keutamaan Ramadan

Print Friendly and PDF
khotbah jumat meraih keutamaan ramadan
Sebagai umat Islam yang senantiasa berupaya mengikuti risalah Rasulullah Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam, tak lupa kita sampaikan rasa terima kasih kita atas perjuangan, pengurbanan dan perhatian beliau kepada kita semua, dengan senantianya memperbanayak shalawat dan salam untuk beliau, dan juga untuk para sahabatnya, keluarganya dan para pengikutnya yang setia. Dengan hal yang demikian ini, semoga kelak akan menjadi wasilah datangnya syafaat beliau untuk kita di yaumul qiyamah. Aamiin yaa rabbal‟alamiin. Untuk melengkapi rukun khotbah kali ini, tidak lupa dan tak bosan-bosannya, kami selaku khatib senantiasa mengingatkan diri pribadi, para jamaah serta semua saudaraku di mana saja berada, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah Subhanahuwata'ala dengan segala kensekuensinya. Taqwa dalam arti berusaha menjalankan semua perintahNya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Dengan hal yang demikian, semoga kita akan mendapatkan keselamatan, kemuliaan, dan kebahagiaan di dunia sampai di akhirat besoknya. Insya allah, aamiin yaa rabbal‟alamiin. Sebagaimana sudah disampaikan melalui firman Allah Subhanahuwata'ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al Hujurat: 13).

Tidak hanya kemuliaan individual, namun kemuliaan, keselamatan, dan kebahagiaan  amaiyah/kelompokpun juga berawal dari keimanan dan ketaqwaan bersama. Sebagaimana sudah disampaikan melalui firman Allah Subhanahuwata'ala:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A'raf: 96).

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahuwata'ala menutupnya dengan diksi antagonis, yaitu penyebab kecelakaan, kesusahan, penderitaan, kemerosotan manusia, yakni kedustaan manusia akan keimanan dan ketaqwaan mereka kepada Allah Subhanahuwata'ala. Na‟udubillahi min dalik.

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan dengan bulan mulia, bulan penuh rahmah dan ampunan, Dialah bulan Ramadan. Melalui mimbar ini, kami serukan kepada Anda semua, marilah kita berlombalomba meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Karena hanya dengan ketakwaan, kedudukan kita dimuliakan oleh Allah di dunia dan di akhirat. Dan, ketakwaan ini adalah hikmah diperintahkannya kita berpuasa di bulan ini sehingga kita bisa meraih keutamaan ramadan yang kita inginkan.

Sungguh sayang bila kita melewatkan begitu saja momentum Ramadan kali ini. Ini adalah bulan yang di dalamnya banyak keutamaan. Ingatlah kata Nabi Shallallahu'alaihi wasallam:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَ هٌِْ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ غٌُْفَرَ لَهُ

Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadan, lalu Ramadan berlalu dari dirinya sebelum dosa-dosanya diampuni (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Ampunan Allah Subhanahuwata'ala tidak datang begitu saja. Harus ada perjuangan meraihnya. Maka kita harus menunaikan puasa sebaik-baiknya, mengetahui batasan-batasannya dan menjaga diri dari apa saja yang seharusnya dijaga. Rasul Shallallahu'alaihi wasallam pernah bersabda:

تٌََحَفَّظَ فِ هٌِ كَفَّرَ مَا كَانَ قَبْلَهُ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَعَرَفَ حُدُوْدَهُ وَتَحَفَّظَ مِمَّا كَانَ نٌَْبَغِ لَهُ أَنْ

Siapa saja yang berpuasa Ramadan, mengetahui ketentuan-ketentuannya dan menjaga apa saja yang harus ia jaga selama Ramadan, akan dihapus dosa-dosanya yang telah lalu (HR Ahmad).

Orang yang ingin meraih keutamaan Ramadan pasti tak menyia-nyiakan kesempatan emas di dalamnya. Yakni meraih kebaikan Lailatul Qadar. Rasul Shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
  
إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِ هٌِ لَ لٌَْةٌ خَ رٌٌْ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَ قدْ حُرِمَ الْخَ رٌَْ كُلَّهُ وَلاَ حٌُْرَمُ خَ رٌَْهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ

Sungguh bulan (Ramadhan) ini telah datang kepada kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang tidak mendapatkan (kebaikan)-nya maka dia tidak mendapat kebaikan seluruhnya. Tidak ada yang terhalang dari kebaikan Lailatul Qadar kecuali orang yang bernasib buruk (HR Ibnu Majah).

Dengan menghidupkan Lailatul Qadar di antaranya dengan menunaikan shalat malam di dalamnya akan diraih keutamaannya sekaligus ampunan Allah Subhanahuwata'ala di dalamnya. Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِ مٌَْانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَ لٌَْةَ الْقَدْرِ إِ مٌَْانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Perlu diingat, agar keutamaan Ramadhan itu bisa kita raih, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni meninggalkan segala perkara yang haram atau sia-sia; lebih khusus lagi meninggalkan apa saja yang membatalkan puasa dan apa saja yang bisa menggagalkan pahala puasa. Ingatlah sabda Rasul Shallallahu'alaihi wasallam:

 الصِّ اٌَمُ جُنَّةٌ فَلاَ رٌَْفُثْ وَلاَ جٌَْهَلْ. وَإِنِ امْرُإٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْ قٌَُلْ إِنِّى صَائِمٌ مَرَّتَ نٌِْ. وَالَّذِى نَفْسِى بِ دٌَِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْ بٌَُ عِنْدَ  اللََِّّ تَعَالَى مِنْ رِ حٌِ الْمِسْكِ، تٌَْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى. الصِّ اٌَمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Puasa itu perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, “Sungguh aku sedang berpuasa,” sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah yang membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya (HR al-Bukhari).

Yang tak kalah penting, mari maksimalkan beramal shalih. Bukankah Allah menjanjikan pahala berlipat atas amal tersebut di bulan ini? Perbanyak tadarus al-Quran; shalat sunnah; membayar zakat dan meningkatkan sedekah; iktikaf, qiyamul lail, amar makruf nahi mungkar; dan amal-amal taqarrub lainnya. Namun demikian, amal shalih yang paling utama di sisi Allah Subhanahuwata'ala adalah apa saja yang Dia wajibkan. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

مَا تَقَرَّبَ إِلَ عَبْدِي بِمِثْلِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَ هٌِْ، وَمَا زٌََالُ عَبْدِي تٌََقَرَّبُ إِلَ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku fardhukan atas dirinya. Hamba-Ku terus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintai dirinya (HR al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Karena itu amal-amal fardhu tentu harus diprioritaskan sebelum amal-amal sunnah. Ibn Hajar al-Ashqalani menyatakan di dalam Fath al-Bârî, sebagian ulama besar mengatakan, “Siapa saja yang fardhunya lebih menyibukkan dia dari nâfilahnya maka dia dimaafkan. Sebaliknya, siapa yang nâfilah-nya menyibukkan dia dari amal fardhunya maka dia telah tertipu.” Insyaallah dengan itu semua, kita bisa meraih hikmah puasa yakni takwa. Takwa yang terwujud dalam pribadi, masyarakat, dan negara. Sungguh dengan ketakwaan maka Allah akan bukakan keberkahan dari langit dan bumi. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, meningkatkan derajat kita, dan menjadikan kita semua hamba-hamba yang sukses meraih keutamaan Ramadhan. Aamiin.

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga ada yang bermanfaat. Jika ada salahnya, hanya karena dari kekurangan saya sendiri, untuk itu mohon dimaafkan. Bila ada benarnya semata-mata petunjuk dari Allah Subhanahuwata'ala dan tauladan RasulNya, semoga kita bisa mengamalkannya. Selanjutnya, marilah kita akhiri rangkaian khutbah ini dengan berdoa, semoga semuanya diberi panjang umur, sehat wal afiat, manfaat dunia akherat. Senantiasa diberi hidayah, inayah dan kekuatan untuk menjalankan kewajiban dakwah menegakkan syariat Allah di bumi ini, sehingga semakin menambah kesadaran umat akan pentingnya taat kepada Allah atas segala perintah, dan hukum-hukum ketentuanNya, dan meninggalkan semua yang bertentangan dengan syareat Allah Subhanahuwata'ala, baik dari manapun asalnya, yang tidak sinkron dengan syareat Islam. Aaamiin ya robbal‟alamiin.[marbot]

***

Sumber: naskah khotbah, seruanmasjid.com, gulfnews.com(gambar)
Print Friendly and PDF

Post a Comment

0 Comments